Jumat, 15 April 2011

DRAMA KEHIDUPAN WALIDAIN QIQI




WALI SANTRI DAN WALI NIKAH
           
           Atas rahmat Allah Yang Maha Kuasa, yang dilimpahkan-Nya kepada kita semua disini. Pada pagi hari ini, kita ditakdirkan bertemu dan berkumpul di lokasi ini. Atas kehadiran Puan Puan dan Tuan Tuan sekeluhum di tempat ini, disampaikan  banyak terima kasih. Niat kita pada hari ini sama, yaitu wisata  religi di hari libur, dengan mengajak anggota keluarga (anak-cucu) menikmati hiburan di kolam pancing Prasung ini.
             Acara inti pada pagi hari ini, adalah acara akad nikah (perjanjian luhur) dan ijab qabul (serah terima) putra pertama kami, QQ. Mali Mardiyah dengan Machbub Junaidi. Acara ini dirancang sesederhana mungkin, murah, meriah, tanpa pamrih. Kehadiran Puan Puan dan Tuan Tuan sekeluhum di tempat ini, bertujuan untuk menyaksikan acara tersebut, dan sekaligus diminta turut mendoakan mereka.
            Dalam kesempatan yang baik ini, perkenankan kami untuk menyampaikan sebuah narasi tentang sejarah hidup anak kami, yang selama ini dirawat, diasuh, dibina dan dididik sampai dewasa. Hal ini disampaikan untuk diketahui oleh Puan Puan dan Tuan Tuan yang tidak tahu suka dukanya menerima amanat dari Allah SWT. Narasi ini diberi judul “Wali Santri dan Wali Nikah”.
             Dalam hal ini, sebelumnya disampaikan permohonan maaf, bila Puan Puan dan Tuan Tuan ada yang merasa kurang berkenan dalam acara ini. Pada umumnya, acara akad nikah seperti ini, biasanya dilakukan sebagian orang di rumah mempelai perempuan, atau di masjid, atau di gedung tempat resepsi. Nah acara hari ini, ditampilkan beda dengan biasanya, supaya ada kenangan indah, yaitu akad nikah plus wisata.

A.   AULIA DAN WALI NIKAH
           Puan Puan dan Tuan Tuan Yang Terhormat
           Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, “Ridhallaahu bi ridhal-walidain” artinya “Allah akan meridai pernikahan hamba-Nya, bila anak itu sudah mendapatkan  restu kedua orang tuanya”. Hadis ini mengandung makna, bahwa kunci kebahagiaan dalam perkawinan umat manusia, salah satu kuncinya, adalah setiap anak wajib melibatkan ayah dan ibunya (walidain). Bila hal ini diabaikan, alamat pasangan penganten akan menghadapi beragam masalah., karena mereka melakukan ijab qabul (serah terima) yang dipaksakan, bukan atas dasar suka rela. Jika saja di dunia ini terdapat 2 Tuhan, maka yang pertama adalah Allah, dan yang kedua, adalah Ayah dan Ibunya. Dalam prosesi akad nikah (perjanjian luhur), ayah kandung dari fihak perempuan disebut wali. Tanpa wali, pernikahan itu tidak sempurna, bahkan dinilai tidak syah.

A.   AULIA DAN WALI NIKAH         
         Alhamdulillah, 5 bulan yang lalu, Sheh Sulhawi dan Puan Umi Siyamiati berziarah ke makam Rasulullah, Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi dan makam para syuhada di Jabal Uhud Madinah. Aktivitas tersebut dilakukan dalam program Umrah Ramadan    1431 H, yang dilaksanakan pada 4 s/d 22 Agustus 2010, yang dipimpin langsung Tuan Dr. Syekh As-Saif Abd Chalim, Ketua KBIH Amanatul Ummah Surabaya.  Beberapa tahun yang lalu, Sheh juga berziarah ke makam Wali Songo di Jawa dan Wali di Kalimantan, Syekh Arsyad al-Banjari di Martapura.
           Waktu Sheh masih kecil, pernah diajak orang tua berziarah ke makam Empu Hyang Tanjung Raman di Muara Enim. Konon menurut cerita rakyat, dia termasuk wali Allah yang melakukan Islamisasi di wilayah Sumatera Selatan. Selain itu Sheh sempat berziarah ke makam Bung Karno di Blitar Jawa Timur dan makam Pak Harto di Karang Anyar Jawa Tengah. Keduanya adalah Mantan Presiden RI, yang disebut dengan istilah Waliyul Amri.
           Ketika berziarah ke makam Raden Said (Sunan Muria) di Demak Jawa Tengah, yang terletak di atas Gunung Muria. Dari terminal, Sheh naik ke lokasi makam menggunakan jasa transportasi ojek, saat itu disampaikan guyon kepada tukang ojek, bahwa “Mas, hati-hati dan pelan-pelan saja, Sheh ini wali dari Jawa Timur berziarah ke makam wali di Jawa Tengah”. Pada saat itu, Sheh memang berstatus wali santri, anak kedua Sheh (Zalfa Robby Rodiyan) sedang belajar di Ma’had Al-Zaytun Indramayu Jawa Barat (2001-2007). 
           Selama Sheh merantau ke Jawa (Surabaya dan Sidoarjo), sejak Desember 1974 sampai sekarang (35 tahun), setiap kali pulang ke kampung halaman di Lahat Sumatera Selatan, tidak pernah absen berziarah ke makam orang tua (ayah bunda), yang disebut walidain. Kali terakhir pada Senin, 27 Ramadan 1431 / 6 September 2010, kali ini tidak hanya berziarah ke makam walidain, tetapi dilengkapi ke makam kakek H. Basri dan anak-cucunya. Tradisi semacam ini, di Lahat, diistilahkan dengan Ziarah ke Empu Hyang, yaitu anak cucu yang mendoakan leluhur di makamnya.
          Hal ini dilakukan sebagai wujud dari rasa terima kasih kepada mereka yang lebih dulu berstatus muslim, (QS. al-Baqarah, 2:83). Dalam hal ini disadari, bahwa Sheh menjadi muslim, merupakan berkah dari status mereka itu sebagai muslim. Dengan itu, Sheh tidak pernah masuk Islam, karena telah diislamkan sejak lahir. Dalam hal ini disadari, bahwa kedua orang tua adalah orang yang paling berjaza terhadap anak-anaknya, khususnya dalam program Islamisasi. Dengan itu, jaza ayah bunda itu mustahil bisa dibalas anak-anaknya, dalam bentuk apapun juga. Maka dalam hal ini, Islam mengajarkan kepada umatnya, bahwa semua anak diwajibkan selalu berdoa untuk leluhurnya dengan kalimat;
“Allaahumma aghfirly wali walidaya wa arhumma kama robbayany shoghira, wali jami’il-mukminina wal-mu’minaat, wal-muslimina wal-muslimat, al ahyaai minhum wal-amwat”.
           Pada hari ini, Sabtu Wage, 01 Januari 2011, Sheh berstatus sebagai wali nikah, menikahkan anak pertama, ananda QQ. Mali Mardiyah dengan ananda Machbub Junaidi, di lokasi wisata Delta Fishing Prasung Buduran Sidoarjo. Kemudian, dalam status sebagai dosen di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya, setiap semester berstatus sebagai wali studi para mahasiswa. Dengan itu, tidak salah, jika ada orang yang menyebutkan, bahwa Sheh Sulhawi Rubba itu seorang wali (QS. an-Nisa, 4:33).
           Wali itu adalah penguasa sebuah wilayah, misalnya seorang penguasa suatu kota, disebut Wali Kota. Wali kota di nusantara, jumlahnya puluhan orang. Mereka itu disebut sebagai aulia, jamak dari kata wali. Demikian pula mereka yang termasuk dalam daftar wali songo, mereka adalah para aulia. Jika kiai di pondok pesantren mengundang para wali santri dalam sebuah pertemuan, maka pertemuan itu disebut pertemuan kiai dengan para aulia (wali santri).
        Selama ini istilah wali itu, hanya difahami kebanyakan orang sebagai wali Allah. Demikian pula, ketika orang menyebutkan  bahwa Gus Dur (Abdurrahman Wahid) itu seorang wali. Pernyataan rakyat tersebut adalah benar, karena Gus Dur itu selain sebagai wali santri dan wali nikah bagi anak-anaknya, beliau adalah waliyul amri (Presiden RI yang ke 4).
        Dengan demikian, semua orang yang dikaruniai keturunan (anak cucu), mereka itu berstatus sebagai wali. Termasuk semua orang yang berprofesi sebagai guru di lembaga pendididikan, mereka adalah wali kelas dari murid-muridnya. Di dalam al-Quran disinggung tentang masalah kewalian ini, ada orang yang terdaftar dalam urutan kelompok Wali Allah, yaitu orang-orang suci yang ikhlas dalam melaksanakan jihad fi sabilillah, yaitu mereka yang berjuang menegakkan kalimah Allah di muka bumi. Mereka itu adalah tokoh Islamisasi di tengah masyarakat.
       Mereka yang disebut dengan wali Allah tersebut, mereka itu tidak tersentuh oleh gangguan dan bisikan Iblis, karena mereka itu dengan ketulusan hatinya dalam berjihad, otomatis menempel dengan Ilahi, dan lengket seperti prangko. Mereka itu mendapatkan ma’unah, seperti para nabi mendapatkan mukjizat. Tentang masalah ma’unah dan mukjizat itu, hakekatnya sama tapi tak serupa, dan serupa tapi tak sebangun.
B.    CUCU TUAN H. BASRI DAN TUAN H. ALI
        Ananda QQ (Qiqi) yang dinikahkan Sheh pada hari ini lahir pada Jumat Pahing, 01 November 1985 di Rumah Sakit Umum Daerah Sidoarjo. Ketika masih berumur beberapa bulan sampai setahun, saat ditinggal Puan Umi bekerja, QQ diasuh, diawasi dan dirawat tantenya Elly (Puan Nurlailiyah Sarwan). Pada saat itu kami menempati rumah senior Sheh di jalan Raya Sudirman 63 Manggalarang Sidoarjo, milik Tuan Haji (TH). Abu Sufyan, seorang tokoh Muhammadiyah Jawa Timur.
        Ananda QQ dan adik-adiknya, ZF Robby Rodiyan dengan panggilan Zalfa (Senin Legi, 17 Juli 1989) dan AA. Raja Aynelhaqq (Rabu Legi, 12 April 1995) adalah hasil pernikahan Sheh dengan Puan Umi Siyamiati, 26 tahun yang lalu, tepatnya pada Sabtu, 5 Januari 1985 di Masjid Al-Falah Surabaya (QS. al-Anfal, 8:28). Saat itu yang berperan sebagai wali nikah adalah Ayahanda Tuan Sarwan bin H. Ali (alm) dan pemberi khutbah (khatib) nikah, Alm. Tuan KH. Misbach, Ketua MUI Jawa Timur. Sejak awal pernikahan itu, kami telah mengumandangkan doa kepada Allah SWT, “Robby hably minash-sholihyn”
          Ketika resepsi pernikahan kami dulu, tanpa diduga, hadirlah seorang siswa kelas 3 SMP Negeri Surabaya yang bernama Hasbullah (16). Dia adalah putra ketiga Kakanda     H. Surnawi, yang pernah selama 3 tahun (1985-1988) tinggal bersama kami di Sidoarjo, ketika dia belajar di SPMA (Sekolah Pertanaian Menengah Atas). Kemudian dia melanjutkan studi ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), tamat dengan gelar Insinyur (Ir) dari Fakultas Pertanian. Selama tinggal di Sidoarjo, Hasbullah aktif bersama teman-temannya melaksanakan aktivitas keislaman, seperti mereka membentuk organisasi RIM (Remaja Islam Manggalarang).
         Setelah ananda Hasbullah, keponakan yang pernah tinggal satu rumah dengan ananda QQ di Manggalarang, menyusul ananda Imam Chalimi yang sekolah di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo (1990-1993), setamat dari MTs Negeri Muara Enim Sumsel. Setelah itu ananda Joharni, kuliah di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Keduanya tuntas menyelesaikan program S1, mereka menyandang gelar Imam Chalimi, SH dan Joharni, SE. Selain itu, ananda Uzair Zamzami Hamza, putra kedua kakanda H. Zawawi seusai kuliah di AMKOP (Akademi Managemen Koperasi) Palembang, pada 1994. Semuanya sudah menikah.
          Mereka yang pernah turut serta mengawasi ananda QQ di waktu kecil, sampai menjelang remaja setiap hari, dan sekaligus membantu di rumah kami, yaitu pamannya  yang dipanggil Om Arif (Arifaini Sarwan) selama 3 tahun, ketika sekolah di SMA 2 Muhammadiyah Sidoarjo. Yang lebih lama lagi, tantenya yang dipanggil Tante Lis (Lilis Nur ‘ailiyah), sejak dari SMA sampai lulus FD IAIN Sunan Ampel (1986-1994) dan Om Yasin (Moh. Yasin Ibrtahim) yang berperan aktif mendistribusikan bulletin Jumatan LISANALAM (1988-2005) di Surabaya dan Sidoarjo. Om Yasin dan Tante Lis itu adalah putra Tuan Ibrahim bin  H. Ali, adik kandung Ayahanda Sarwan.
            Pernikahan Sheh dan Puan Umi adalah perkawinan antar pulau dan antar suku, Sumatera dan Jawa, kemudian disingkat RAJA. Dengan itu, anak kami yang ketiga, yang sekarang belajar di Madrasah Bertaraf Internasional (MBI) Pontren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto, diberi nama AA. Raja Aynelhaqq, dengan panggilan Alam (singkatan dari al-Amien).  
         Sebelum Sheh dan Puan Umi menikah, kami adalah aktivis HMI cabang Surabaya, kami saling mengenal diawali dari Jalan Sumatera 36 a Surabaya, sentral aktivitas anggota HMI. Pada saat itu kami berdua telah mengenal Mendiknas Tuan Prof Dr. H. Mohammad Nuh, kader dan aktivis HMI dari ITS, yang kareirnya sebagai dosen, sukses sampai ke puncak yang paling atas.
         Puan Umi sebagai bunda dari ananda Qiqi, Zalfa dan Alam, adalah anak ke 2 dari hasil pernikahan Ayahanda Tuan  Sarwan dan Ibunda Puan Hj. Kuniati. Puan Umi  mempunyai 6 saudara, satu perempuan yaitu Dinda Nurlailiyah (anak ke 4) dan 5 orang lelaki, yaitu Kanda Imam P. Udin (anak ke 1), Dinda H. Taufiqqurrahman (anak ke 3), Dinda Muhtarom (anak 5), Dinda Arifaini (anak ke 6) dan Dinda Agus Sarwo Edy (anak ke 7). Sekarang jumlah cucu dari Ayahanda Tuan Sarwan dengan Ibunda Puan Hj. Kuniati sebanyak 20 orang, QQ adalah cucu yang pertama yang melaksanakan akad nikah.
        Sheh sebagai wali nikah ananda QQ, adalah anak keempat dari hasil perkawinan Ayahanda Tuan Rubah bin H. Basri (Rubba) dengan Ibunda Puan Ayuni binti Multasim, di Gedung Agung Merapi Lahat. Anak pertama mereka, diberi nama Kanda Yasudi (alm), kedua Kanda H. Surnawi dan ketiga Kanda H. Zawawi (alm). Jumlah anak cucu Ayahanda Tuan Rubah dengan Ibunda Puan Ayuni sebanyak 12 orang, sedang cicitnya  20 orang.
           Alhamdulillah, setiap kali Puan Umi hamil untuk ketiga anak tersebut, diprogram selama 9 bulan menghatamkan bacaan kitab suci al-Quran, yang terdiri dari 6236 ayat, dari 114 surat yang terangkum dalam 30 juz. Ketiganya diberi ASI selama minimal 2 tahun. Dalam usia sekitar setahun, ananda QQ pernah diajak rekriasi ke pulau dewata Bali. Dalam perjalanan pulang, Puan Umi sempat mabuk, sehingga berpengaruh terhadap ASInya. Dengan itu, QQ sempat tidak mau minum ASI bundanya, karena rasanya berbeda (basi) dengan ASI ketika ibunya sehat walafiat (segar). Pada saat itu, solusi yang diambil, ASI ibunya diolesi madu, sehingga QQ mau minum ASI kembali, sampai berusia lebih 2 tahun, (QS. Luqman, 31:14).
C.    WARISAN IMAN DAN ILMU
          Kami pernah berwasiat kepada anak-anak (Qiqi, Zalfa dan Alam), bahwa Sheh dan Puan Umi hanya bisa dan mampu memberikan warisan “Iman dan Ilmu”, (QS.al-Mujadalah, 58:11). Hampir tidak ada warisan harta, seperti warisan orang-orang kaya kepada anak cucunya. Dengan itu, gunakanlah waktu selagi muda untuk menimba ilmu pengetahuan, bila perlu antum sekolah sampai ke manca negara. Sesungguhnya di dunia ini tidak ada yang sulit, jika orang tahu kuncinya, yaitu ilmu.  
          Sejak balita, ananda QQ sudah dikenalkan dengan nilai-nilai ajaran Islam, seperti diberi pelajaran menghafalkan doa makan, doa akan tidur, dan doa-doa lainnya. Pada waktu dia masih kecil, di rumahnya (Sudirman Empat 14) diadakan pendidikan al-Quran (TPQ) buat anak-anak tetangga sekitar, yang diasuh langsung oleh Puan Umi sendiri, pada 1987. Kemudian dibantu yang lainnya.
        Upaya pendidikan keislaman yang dirintis Puan Umi itu, setelah berjalan beberapa tahun, kemudian diserahkan ke LPM (Lembaga Persaudaraan Muslim) dengan menempati musola di jalan Sudirman tiga no 25. Namanya sekarang TPQ Manggala (Taman Jenggala) yang terdaftar di kantor Kementerian Agama Kabupaten Sidoarjo, saat ini TPQ tersebut dipimpin Ustadzah Hj. Isti’adah, istri Dr. H. Achmad Zuhdi DH, cendekiawan muslim aliran moderat (Ahlus-Sunnah wal-Jamaah), didampingi Ustadzah Hj. Wijayanti Machsoen dan Rekan, serta 8 orang Ustadz/ah membimbing 60 orang santri setiap hari.
          Sejak usia 5 tahun (1990), ananda QQ sudah didaftarkan sebagai santri di lembaga pendidikan formal, yaitu di Bustahanul Athfal, Taman Kanak-Kanak Aisyiyah. Pada 1991 sampai 1997 dididik dan dibina di SD Muhammadiyah I Pucang Sidoarjo, saat itu kepala sekolahnya dijabat Puan Chaulah Syaf sampai 25 tahun. Di sekolah ini, selama 6 tahun mendapatkan pelajaran keislaman, selain pelajaran umum. Kemudian melanjutkan studi ke SMP Negeri 2 Sidoarjo (1997-2000), lalu ke SMA Negeri 2 Sidoarjo (2000-2003).
         Setelah itu kuliah di Fakultas Dakwah Surabaya IAIN Sunan Ampel, mengambil program S1 (Strata Satu) dalam bidang studi Komunikasi Sosiologi, tamat pada 2008, dengan gelar S. Sos (Sarjana Ilmu Sosial). Pada awal November 2010, mendaftarkan diri sebagai mahasiswa program pasca sarjana di UMSIDA (Universitas Muhammadiyah Sidoarjo), dalam program Magister Managemen. Ini salah satu upaya meningkatkan kualitas diri sebagai pribadi muslim yang diwajibkan menuntut ilmu, yang sekaligus bagian dari warisan iman dan ilmu dari Sheh dan Puan Umi sebagai walidainnya.
D.   RESTU WALIDAIN TERHADAP QIQI
      Terhitung sejak Oktober 2009 sampai saat ini, ananda QQ diterima sebagai tenaga kontrak di Rumah Sakit Daerah Sidoarjo. Sebelumnya bekerja di kantor Notaris Ivone Dwiratna Mulyaningrum, SH., notaris yang mengurus sertifikat perumahan korban lumpur Lapindo, setelah diwisuda pada April 2008. Pada awal bekerja, upah yang diterimanya setiap bulan, dimanfaatkan untuk pembayaran kredit sepeda motor Honda Revo (W 2345 RQ).
         Ketika ananda QQ masih mengabdi di kantor notaris ini, sekitar Juli 2009 terjadilah perkenalan, antara QQ dengan seorang pemuda yang bernama Machbub Junaidi, yang lahir pada Selasa, 24 Juni 1975, dari desa Randegan Tanggulangin, putra pertama Puan Asmuntik dan Tuan Supardi, pensiunan kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo.
        Perkenalan antara ananda QQ dan Machbub itu berlanjut, hingga menjadi sahabat karib. Sejak setahun yang lalu, mereka sudah minta dinikahkan, karena sudah merasa cocok untuk menjadi pasangan suami isteri. Permintaan mereka ditangguhkan. untuk memberikan kesempatan mereka berfikir yang lebih jauh dan mendalam, karena kehidupan berumah tangga itu, membutuhkan persiapan mental spiritual yang matang.
       Kami sampaikan kepada ananda QQ, pada saat Antum berumah tangga nanti, banyak masalah yang akan timbul dan harus dihadapi dan dipecahkan bersama di dalam rumah tangga. Idealnya, bahwa suami dan isteri itu adalah sahabat abadi, sahabat dalam suka dan duka, sahabat sampai kiamat hingga di alam akhirat. Orang melayu bilang, kehidupan suami isteri itu harus seiring dan sejalan, serasi dan serasan, senasib dan sepenanggungan, dan sehidup semati, seperti pasangan Nabi Adam dan Siti Hawa yang mencontohkan citra keluarga As-Sakinah Mawaddah wa Rahmah (ASMARA).
        Dalam hal pernikahan ini, Nabi bersabda, bahwa “Dalam perkawinan itu dibolehkan cerai (talak), tetapi dibenci oleh Allah SWT”. Maknanya, perkawinan itu diupayakan abadi, perceraian hanya ada, ketika salah seorang menemui ajal. Dengan itu, diperlukan saling mencintai, saling menghormati, saling menghargai, saling mengingatkan, saling membantu dan saling yang baik-baik lainnya. Wasiat Ilahi dalam kitab suci “Ta’aawanw ‘alal-birri wal-taqwa”, dan “Wa tawaashaw bil-haqqi wa tawaashaw bil-shabri”.    
          Selain berdoa di tanah air (di rumah), Sheh dan Puan Umi selama di tanah suci, ketika melaksanakan Umrah Ramadan, kami terus berdoa di tempat-tempat mustajabah, seperti di Rawdhah, di depan Kakbah dan tempat lainnya. Kami mohon, ananda QQ ditemukan jodohnya, yang cocok dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah, yaitu pemuda yang saleh, pemuda yang ganteng, pemuda dari keturunan orang terhormat dan lelaki yang bertanggungjawab terhadap keluarga (QS. al-Baqarah, 2:221).
         Alhamdulillah, doa kami berdua terkabul, ananda QQ sudah memilih dan memutuskan calon suaminya, bernama Machbub Junaidi bin Supardi, karyawan Pemerintah Kota Batu, dalam status PNS. Ketika ditanyakan kepada ananda QQ, apa yang menarik hati dari pilihanmu itu. Jawabnya, “Tuan Machbub itu tidak merokok”. Dia tidak mengisap barang haram, karena merokok itu jembatan menuju terminal narkoba, (QS. al-Baqarah, 2:168) .
           Sheh dan Puan Umi sebagai orang tua (wali) yang berkewajiban menikahkan anak, kami harus menghargai dan sekaligus merestui pilihan tersebut. Dalam pandangan syariat, QQ adalah milik kami berdua, namun dalam pandangan hakekat, ananda QQ adalah milik Allah SWT yang diamanatkan kepada kami. Allah SWT (al-Khaliq) telah menakdirkan di Lauhul Mahfudz, bahwa ketika ananda QQ masih dalam kandungan ibunya Puan Umi, 25 tahun yang lalu. Kemudian lahir di muka bumi pada Jumat Pahing, 01 November 1985, jodohnya adalah lelaki yang bernama Machbub Junaidi.
            Pada hari ini, Sabtu Wage, 01 Januari 2011, bertepatan dengan 25 Muharam 1432 dalam acara khusus yang dihadiri karib kerabat, sahabat dan tetangga dekat, ananda QQ dinikahkan Sheh dengan Machbub Junaidi bin Tuan Supardi, dengan mahar Uang           Rp. 1.012.011,- dan 25 gram emas. Acara ‘ijab qabul (serah terima) ini disaksikan Tuan Drs. Pulung Sabrony Amin, kepala KUA (Kantor Urusan Agama) Pabean Cantian Surabaya. Dia yang mengeluarkan dan menanda-tangani akta nikah ananda QQ dan Machbub.
            Tuan Pulung ini adalah naib yang dilahirkan di Lampung 55 tahun yang lalu, dia sahabat karib Sheh sejak kuliah di Fakultas Syariah IAIN Sunan Ampel pada 1976. Beliau adalah orang yang mendapat amanat Sheh, untuk memberikan nasehat kepada ananda QQ dan Machbub, tentang masalah seluk beluk perkawinan menurut Islam.
E.    FILSAFAT HIDUP POHON PISANG   
          Sebelumnya, Sheh dan Puan Umi telah memberikan fatwa kepada ananda QQ, bahwa dalam kehidupan berumah tangga itu, harus memahami dan melaksanakan filsafat Pohon Pisang. Dalam setiap kali ada pesta perkawinan di tengah masyarakat Jawa, Pohon Pisang itu selalu dipajang sebagai bagian penting dari ragam dekorasi.  Pohon Pisang tersebut mengandung filsafat hidup, yaitu antara lain, adalah :
1.       Enggan mati sebelum jantungnya keluar sebagai pertanda berbuah, dia akan hidup terus sekalipun batangnya kurus.
2.     Mampu bertahan hidup dalam berbagai musim (hujan, kemarau, semi, gugur) dan siap hidup di pelbagai tempat (di pinggir pantai, di atas bukit, di tengah hutan, di rawa-rawa, dan tempat-tempat lainnya).
3.     Di tanah tempatnya tumbuh dan beranak pinak selalu terasa dingin, karena di sekitarnya mengandung air, yang menjadikan subur bagi semua tanaman yang ada di sekelilingnya. Kalau ada sumur di kebun pisang, sumur itu tidak pernah kering sekalipun di musim kemarau.
4.     Dia akan menjadi induk baru, ketika dipisahkan dengan kerabatnya dan dipindahkan ke tempat lain.
5.     Daunnya bermanfaat untuk dijadikan payung ketika hujan, buat pembungkus nasi dan kue, dan dijadikan alas duduk di atas tanah.
6.     Pohonnya yang sudah ditebang, bisa dijadikan pupuk tanaman dan bisa digunakan sebagai pelampung renang di atas sungai. Sekarang dijadikan bahan pembuatan kain dan tas tangan untuk souvenir.
7.     Pelepahnya bisa dijadikan mainan buat anak-anak dan tali pengikat.
8.     Buahnya mengandung vitamin C, yang sangat berguna bagi kesehatan umat manusia. Buahnya yang sudah matang di pohon, sebagian bisa dimakan tanpa dimasak dulu dengan api, seperti Pisang Ambon. Sebagian lagi harus direbus atau digoreng, dan sebagian lainnya dijadikan kripik sebagai makanan ringan.
9.     Dan selain itu, masih banyak manfaat lainnya, yang bisa didapatkan dari filsafat pohon pisang tersebut, (QS. Ali Imran, 3:191). Masyaallah  (luar biasa, bukan?)
        Terhadap semua anak-anak, setiap hari kami berdoa kepada Allah SWT, mohon supaya mereka selalu diberi hidayah, taufiq dan inayah serta limpahan aneka macam karunia dalam kehidupan ini. Semoga mereka menjadi orang-orang saleh, orang yang berguna bagi agama, negara dan bangsa, dengan membawa rahmat bagi keluarga. Salah satu doa yang sering dibaca, khususnya seusai salat, yaitu ;
Robbanaa Hablanaa min azwaajinaa, wa dzurriyatinaa qurrata a‘yun, wa aj’alnaa lil muttaqyna imaamaan, wa aj’alnaa min ‘ibadika saalihyn, wa aj’alnaa min ahli ilmi wa min ahli lkhair. Ya Allah, Ya Rahmaan, Ya Rahym, Taqabbal minna innaka sami’ud duaa wa innaka ‘ala kully syai’in qadyr”.
F.    PELIMPAHAN AMANAT ILAHI
                   Sheh dan Puan Umi telah mengemban amanat dari al-Khaliq terhadap ananda QQ, selama kurang lebih 25 tahun, atau 302 bulan, atau 1.309 Jumat, atau 9.163 hari, atau sama dengan 219.912 jam. Dalam kurun waktu tersebut, ketika ananda QQ masih kecil, pernah 2 kali diajak silaturrahmi ke leluhurnya di Lahat Sumatera Selatan.
         Pertama kali, ketika dia masih berumur 2 tahun, pada 1987. Pada saat itu, dia ditemani dan digendong Puan Masni’ah (Mbak Ninik), anak yatim dari Bojonegoro yang tinggal di rumah kami lebih dari 10 tahun, bersama adiknya mbak Nunuk. Kemudian kedua kalinya, setelah dia duduk di bangku sekolah dasar, diajak bersama adiknya Zalfa, pada 1991. Beberapa bulan kemudian setelah ketemu neneknya (mbah kakung), neneknya wafat.
         Kemudian terhitung sejak hari dan saat ini, amanat itu dilimpahkan kepada ananda Machbub Junaidi sebagai suaminya. Dalam kesempatan ini disampaikan wasiat, yaitu wahai ananda Machbub sebagai anak menantu kami, ananda QQ itu sekarang sudah menjadi isterimu. Dengan itu, maka peliharalah, bimbinglah, tuntunlah dan ajaklah selalu berbuat kebajikan dimanapun kamu berdua berada, (QS. al-Baqarah, 2:187). Ingatlah filsafat pohon Pisang, dan filsafat Lebah, sebagai cerminan insan kamil. Sabda nabi “al-Muslimuun kan-Nahlah” artinya “Orang-orang Islam itu seperti citra Lebah”.
        Selama ini, QQ sebagai anak telah kami bina, dan kami bimbing menjadi insan yang beradab, dengan usaha maksimal. Sekalipun demikian, sangat disadari, bahwa  pembinaan kami selama ini, belum dan tidak sempurna, sehingga masih banyak kekurangan dan kelemahannya. Kata orang bijak,”Tak ada gading yang tak retak”. 
      Dengan itu, kepada ananda Machbub khususnya, dan Tuan Supardi serta keluarga sebagai besan (pewarangan), disampaikan dengan segala kerendahan hati dan dengan segala hormat, yaitu ”Terimalah ananda QQ apa adanya, dan sempurnakanlah apa yang telah kami lakukan terhadapnya selama ini”. Tugas dan tanggungjawab Sheh dan Puan Umi sebagai walidain telah berakhir, sejak ananda QQ dinikahkan dengan ananda Machbub Junaidi pada hari ini. “Barokallahu Lakuma, wabaroka ‘alaikuma wa jama’a bainakuma bilkhair, Amien Ya Robbal ‘Alamyn”.
        Wahai ananda berdua, Qiqi dan Machbub, maafkan atas segala kesalahan kami sebagai walidain, yang mungkin pernah melakukan dan merasakan sesuatu yang tidak berkenan di hati Antuma (kamu berdua) selama ini (QS. al-Syura, 42:25). Kemudian tentang keputusan, kami menikahkan antuma yang dilangsungkan pada hari ini, 01-01-2011 (ada 4 digit angka 1), atas pilihan bahwa QQ lahir pada 01-11-1985 (ada 4 digit angka 1). Hal ini, diputuskan 40 hari yang lalu, pada Sabtu, 20 November 2010. Disini terdapat angka yang sama, yaitu tanggal 01, bulan ke 11 dan tahun ke 11.
      Angka satu (wahid) itu sebagai simbol al-Awal (urutan perdana), anak dan cucu pertama yang nikah dari garis Puan Umi dan Bunda Puan Hj. Kuniati. Ananda QQ itu dilahirkan pada Jumat Pahing, kemudian dinikahkan pada Sabtu Wage. Semoga dia tetap selalu menjadi kekayaan keluarga dalam jurai UMALFAQISH (Umi, Alam, Zalfa, Qiqi dan Sheh), seperti doa yang terkandung dalam makna namanya “Maaly Mardhiyah”. Adapun huruf kafital QQ diawalnya, adalah singkatan dari ayat al-Quran yang berbunyi “Qaf wa al-Quran”, ayat pertama dari surat ke 50.
G.   ANAK MENANTU
                   Kemudian dari itu, sebagai ungkapan akhir, Sheh dan Puan Umi pada hari ini sangat bersyukur dan sangat berbahagia, karena mendapatkan anak menantu yang kami anggap sebagai anak sendiri, seperti anak kandung yang menjadi adik-adiknya QQ (Zalfa dan Alam). Ananda Machbub datang dan masuk dalam jurai kami sudah dewasa, sudah bisa mengaji, sudah tamat sekolah, sudah bekerja dan sudah mandiri. Dengan itu, kami menyampaikan terima kasih kepada Tuan Supardi dan Puan Asmuntik yang telah mengandungnya, melahirkannya dan mendidiknya selama ini, dengan susah payah, memeras keringat dan banting tulang.
       Akhirul-qalam, Allaahu Akbar wa lillaahil-hamd. Ya Rabby, Inny tawakaltu ‘ala allah. Nawaitu kami (Jurai Umalfaqish) dalam acara ini merasa tulus ikhlas “Lillahi Ta’ala” (QS. al-Baqarah, 2:207) Engkau Maha Tahu atas segala sesuatu. Kami yakin dan percaya penuh, bahwa apa saja yang Engkau berikan kepada kami, adalah pilihan yang terbaik bagi kami dan terbaik bagi semuanya, (QS.Ali Imran, 3:159). Subhaan allaah wa bi hamdih.
        Makalah ini adalah rangkaian dari perjalanan hidup Jurai UMALFAQISH (Umi, Alam, Zalfa, Qiqi dan Sheh), dan sekaligus ungkapan percikan upaya islamisasi di Indonesia. Hampir semua nama (47 orang) yang disebutkan di atas yang diawali dari Nabi Muhammad SAW, mereka adalah ulama, umara dan umat yang berperan aktif dalam dakwah Islam selama ini, melalui berbagai jalur Islamisasi di tengah masyarakat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar